Berita

Pencegahan Penularan dan Penyebaran Penyakit Leptospirosis

Posted May 28, 2014
Written by
Category Artikel PPPL

Salah satu penyakit yang perlu diwaspadai pada saat musim hujan dan banjir adalah Leptospirosis. Penyakit Leptospirosis atau selanjutnya disebut Leptospirosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman/bakteri Leptospira yang dapat ditularkan ke manusiaLeptospirosis terjadi di berbagai belahan dunia tetapi pada umumnya di wilayah tropis dan subtropis dengan curah hujan yang tinggi. Leptospirosis merupakan penyakit endemis di sejumlah negara bahkan di dunia. Sering memiliki distribusi musiman dan meningkat dengan adanya peningkatan curah hujan atau peningkatan temperature bahkan penyakit ini dapat terjadi sepanjang tahun.

 

Penyebab Leptospirosis dan Masa Inkubasi

 

Leptospirosis di Indonesia terutama disebarkan oleh tikus yang melepaskan bakteri Leptospira melalui urine/kencingnya ke lingkungan., seperti pada saat banjir, selokan yang tercemar urine tikus, sawah yang tercemar dan lain-lain. Karenanya di beberapa Negara dikenal dengan sebutan “demam urine tikus”. Binatang lain yang bisa menularkan leptospirosis di Indonesia menurut survei yang dilakukan oleh Badan Penelitian Veteriner (Balitvet ) Kementerian Pertanian ,Mei 2011 adalah anjing, babi, sapi dan kambing.

 

Masa inkubasi atau masa tunas yaitu masa yang dimulai dari kuman leptospira masuk ke tubuh manusia sampai timbul gejala Leptospirosis antara 2 - 30 hari, biasanya rata – rata 7 - 10 hari.

 

Cara Penularan

 

Manusia dapat terjangkit/terinfeksi Leptospirosis mana kala kuman leptospira,yang ada pada urine tikus/hewan, masuk melalui kulit yang lecet,terluka atau melalui selaput lendir/mukosa.
Terdapat 2 cara penularan Leptospirosis yaitu :

 

- Penularan Langsung :

 

a. Melalui darah, urin atau cairan tubuh lain yang mengandung kuman Leptospira masuk ke dalam tubuh.

b. Dari hewan ke manusia merupakan penyakit akibat pekerjaan, terjadi pada orang yang merawat hewan atau menangani organ tubuh hewan misalnya pekerja potong hewan, atau seseorang yang tertular dari hewan peliharaannya

c. Dari manusia ke manusia meskipun jarang sekali, dapat terjadi melalui hubungan seksual pada masa kesembuhan (konvalesen) atau dari ibu penderita Leptospirosis ke janin melalui sari-ari (plasenta) dan air susu ibu.

 

- Penularan tidak langsung

 

Terjadi melalui genangan air, sungai, danau, selokan saluran air dan lumpur yang tercemar urin tikus/hewan. Pada saat banjir,Leptospirosis dapat cepat menyebar, karena tikus keluar dari tempat persembunyiannya, dan urine/kencingnya tikus dan hewan lain yang mengandung bakteri Leptospira menyebar melalui air banjir tersebut,sehingga memungkinkan orang orang yang mempunyai lecet,luka pada kulit dapat kemasukan kuman leptospira tersebut. Karenanya pada saat pasca banjir dapat terjadi peningkatan jumlah kasus Leptospirosis.

 

Tentang pendapat masyarakat bahwa minuman kaleng, gula pasir dan lain lain rentan dikencingi tikus apabila disimpan di took/gudang dan bisa menjadi media kontak urine tikus dengan manusia belum ada penelittian tentang hal ini. Yang terpenting bagi kita adalah menjaga kebersihan diri pribadi dan lingkungan dari kontaminasi /pencemaran tikus dan hewan lainnya.

 

Yang rentan/berisiko tertular Leptospirosis adalah orang orang yang karena pekerjaannya mempunyai kontak dengan faktor risiko sumber penularan tikus/hewan. Kelompok pekerjaan utama yang berisiko yaitu petani atau pekerja perkebunan, peternak, petugas pembersih saluran air, pekerja pemotongan hewan, pengolah daging dll Kelompok lain yang memiliki risiko tinggi terinfeksi leptospirosis yaitu pasca bencana alam seperti banjir.

 

Gejala dan tanda tanda klinis penderita Leptospirosis

 

Gejala dan tanda klinis penderita leptospirosis sebagai berikut : :

 

-  Demam mendadak (>=38.50°C)

 

-  Sakit kepala

 

-  Nyeri otot betis , sehingga kesulitan berjalan

 

-  Lemah

 

-  Kemerahan pada selaput putih mata (conjunctival suffusion)

 

-  Kekuningan (ikterik) pada mata dan kulit

 

- Seseorang yang mempunyai gejala klinis tersebut hendaknya segera berobat ke pelayanan kesehatan, Puskesmas, Rumah sakit untuk menegakkan diagnosis dan pengobatan.

 

- Leptospirosis ringan diperkirakan mencapai 90% dari seluruh kasus Leptospirosis di masyarakat dengan gejala demam, sakit kepala, dan nyeri otot . Sisanya 10% merupakan Leptospirosis berat yang disertai gejala kegagalan ginjal, dan sakit kuning,

 

Pengobatan

 

Pengobatan dengan memberikan antibiotika yang sesuai baik secara oral maupun suntikan. Antibiotika masih efektif untuk pengobatan leptospirosis

 

Pencegahan

 

Upaya pencegahan terhadap penyakit Leptospirosis dengan cara sebagai berikut :

 

- Melaksanakan PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat) dengan kebersihan individu dan sanitasi lingkungan antara lain mencuci kaki, tangan dan bagian tubuh lainnya setelah bekerja di sawah atau dilingkungan yang tercemat dengan urine tikus/hewan, dengan sabun.

 

- Pekerja atau petani, yang berisiko tinggi memakai sepatu boot dan sarung tangan,

 

- Pemeliharaan hewan yang baik untuk menghindari urine hewan-hewan tersebut kontak dengan lingkungan masyarakat.

- Sanitasi /kebersihan lingkungan dengan membersihkan tempat-tempat sarang tikus.

- Vaksinasi terhadap hewan peliharaan dan hewan ternak.

- Pemberantasan binatang pengerat/rodent bila kondisi memungkinkan.

- Pembersihan tempat penyimpanan air dan kolam renang.(adt/hms)

 

Sumber : Kepala Balitbangkes Kemenkes RI

123.png
Direktorat Jenderal
Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia