Berita

Seminar Kesehatan Indera Penglihatan

Posted November 28, 2016
Written by
Category Berita Kesehatan
Seminar Kesehatan Indera Penglihatan : "Solid dan Sinergi Mencegah Kebutaan"
2016-10-19 15:35:18 
 
Hari Penglihatan Sedunia merupakan salah satu bentuk dukungan pemerintah dalam mewujudkan komitmen global Vision 2020: The Right to Sight, yakni suatu visi untuk mewujudkan kondisi dimana setiap penduduk Indonesia mempunyai hak untuk dapat melihat secara optimal dalam rangka menanggulangi permasalahan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan di Indonesia.


 
Bentuk komitmen ini juga didukung dengan terbentuknya Komite Mata Nasional untuk penanggulangan gangguan penglihatan dan kebutaan dalam mewujudkan Vision 2020. Rangkaian kegiatan peringatan Hari Penglihatan Sedunia bertujuan untuk memperkuat jejaring lintas program/lintas sektor, dan meningkatkan pengetahuan masyarakat secara nyata untuk mendukung tercapainya peningkatan kesehatan mata masyarakat Indonesia, serta merintegrasikan upaya promotif dan preventif gangguan penglihatan dan kebutaan dengan program lainnya.
 
 
Demikian disampaikan oleh Kepala Sub Direktorat Gangguan Indera dan Fungsional, Sri Purwati, SKM, M.Kes, saat menyampaikan laporannya pada Seminar Kesehatan Indera Penglihatan yang dilaksanakan di kantor Kementerian Kesehatan Jakarta, pada (13/10).
 
Tema yang diambil pada Seminar ini adalah “Solid dan Sinergi Mencegah Kebutaan” dengan tema diharapkan dapat dijadikan awareness dalam pencegahan dan pengendalian gangguan penglihatan dan kebutaan khususnya bagi anak remaja dan masyakarat. Sedangkan peserta yang hadir adalah Siswa(i) SLTA sederajat beserta guru pendamping dari berbagai wilayah di Provinsi DKI Jakarta, Institusi Kesehatan di wilayah DKI Jakarta, pejabat di Lingkungan Kementerian Kesehatan, Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Kanwil Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta, perwakilan private sector, Profesi, NGO, Blogger, lintas program dan lintas sektor serta pemenang lomba Fotografi dengan jumlah 250 orang.
 
Di kesempatan yang sama, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM), dr. Lily S. Sulistyowati, MM mewakili Direktur Jenderal P2P menyampaikan dalam sambutannya bahwa  Salah satu masalah kesehatan yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia adalah gangguan penglihatan dan kebutaan. Saat ini diperkirakan sekitar satu juta penduduk Indonesia mengalami kebutaan  dengan penyebab utamanya  adalah katarak. Sementara itu, kelainan refraksi merupakan penyebab utama terjadinya gangguan penglihatan. Di samping itu ada penyakit mata lain yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan dan kebutaan,  seperti glaukoma dan diabetik retinopati.
 
Derajat kesehatan masyarakat dan kualitas hidup manusia sangat dipengaruhi oleh berfungsinya panca inderanya. Kehilangan fungsi salah satu panca indera dapat memberikan dampak besar pada derajat kesehatan dan kualitas hidup seseorang, ujar beliau
 
Lebih lanjut dr. Lily mengatakan bahwasannya masalah ini menjadi tantangan besar bagi Pemerintah dan Masyarakat untuk bersama-sama mengatasinya, agar tujuan pembangunan manusia Indonesia untuk menciptakan Bangsa Indonesia  yang sehat, berkualitas, produktif, mandiri, dan berdaya saing di tingkat dunia  benar-benar terwujud. Oleh karena itu, seluruh masyarakat Indonesia perlu mendukung upaya untuk mewujudkan Vision 2020 : The Right to Sight dan Universal Eye Health  yaitu  upaya penanggulangan gangguan penglihatan dan kebutaan agar setiap orang dapat melihat.
 
Sebagian masyarakat kita saat ini, termasuk anak-anak, banyak  bergantung pada  teknologi komunikasi. Akibatnya, bagi sebagian masyarakat kita pemakaian gadget dan alat komunikasi elektronik lainnya menjadi hal yang mutlak sehari-hari. Dampak pemakaian gadget yang berlebihan  adalah  timbulnya gangguan pada mata seperti kelainan refraksi, kecendrungan ini tampak dari  fenomena meningkatnya penggunaan kacamata pada anak usia sekolah. Paparan radiasi elektronik dari gadget dapat menimbulkan kelainan refraksi. Beberapa penelitian telah menyebutkan bahwa peningkatan penggunaan komputer maupun gadget lainnya adalah sejalan atau berbanding lurus dengan meningkatnya  kejadian miopi atau rabun jauh.
 
Untuk itu, dr. lily mengatakan Kondisi ini perlu mendapat  perhatian kita semua agar pemakaian alat-alat elektronik pada anak-anak usia sekolah tidak  mempengaruhi kemampuan mereka  dalam menyerap pelajaran dan agar potensi  serta  kecerdasan mereka tidak  berkurang.
 
Upaya  Pemerintah dalam mengatasi permasalahan gangguan penglihatan dan kebutaan di Indonesia dilakukan  dengan mengutamakan  upaya promotif-preventif melalui pendekatan :(1) pengendalian faktor risiko, (2) kegiatan skrining atau deteksi dini gangguan penglihatan dan kebutaan pada kelompok berisiko, serta (3) penguatan akses masyarakat pada layanan kesehatan yang komprehensif dan bermutu.
 
Dengan melakukan skrining atau deteksi dini diharapkan dapat dilakukan tatalaksana dini yang efektif untuk mencegah terjadinya kebutaan. Langkah ini perlu diperkuat dengan sistem rujukan dan tatalaksana yang mudah dijangkau  oleh masyarakat di fasilitas pelayanan kesehatan.
 
Sedangkan upaya pemerintah ini hanya akan berhasil jika mendapat dukungan dari seluruh masyarakat, termasuk dunia usaha. Upaya yang dapat dilakukan masyarakat dan dunia usaha adalah (1) menyediakan kacamata gratis bagi anak-anak kita yang mengalami gangguan refraksi. (2) Upaya lain yang juga dapat didukung masyarakat adalah memperluas cakupan dan jangkauan pelayanan operasi katarak bagi saudara-saudara kita yang memerlukannya. Sebab, untuk penderita katarak, satu-satunya cara untuk mengembalikan penglihatannya adalah dengan operasi katarak. (3) Upaya ketiga yang juga dapat diperankan masyarakat adalah memperluas cakupan dan jangkauan skrining dan deteksi dini gangguan penglihatan-bekerjasama dengan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada – utamanya Puskesmas dan Rumah Sakit. Selanjutnya, (4) masyarakat juga dapat berperan dalam upaya promotif-preventif dengan  menyebarluaskan pesan  PINTAR, yaitu Periksa kesehatan mata secara berkala, Istirahat  cukup supaya mata tidak cepat lelah, Nikmati waktu luang bersama keluarga tanpa gadget (smartphone, komputer, tablet), Tidak melakukan kebiasaan yang kurang baik untuk kesehatan mata, Ajak teman sebaya untuk hidup sehat tanpa rokok, Rajin mengkonsumsi sayur dan buah.
 
Rangkaian kegiatan yang telah selesai dilaksanakan yakni lomba fotografi tingkat SLTA se- Provinsi DKI Jakarta yang dimulai pada tanggal 22 September 2016 s/d 9 Oktober 2016 , talkshow dengan radio El-shinta pada tanggal 6 Oktober 2016, pers briefing dengan media cetak dan eletronik pada tanggal 7 Oktober 2016, dan acara puncak berupa deklarasi Komite Mata Nasional serta video conference antara Menteri Kesehatan dengan 6 Provinsi terpilih yakni : Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat, Kep. Riau, Sulawesi Utara dan DKI Jakarta, pada tanggal 10 Oktober 2016. Sedangkan Rangkaian terakhir dari peringatan Hari Penglihatan Sedunia adalah Seminar Kesehatan Indera Penglihatan untuk remaja dan masyarakat.(Adt/Humas)
 
 
 
123.png
Direktorat Jenderal
Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia